Rupiah Ditekan Dolar, BI Minta Jangan Panik

BANDUNG - Bank Indonesia (BI) meminta masyarakat diminta tidak panik, setelah rupiah terdepresiasi hingga angka Rp14.200/USD. Penguatan dolar seharusnya dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kinerja ekspor.

Kepala Grup Advisory dan Pengembangan Ekonomi Bank Indonesia Jawa Barat Ismet Inono mengatakan, penguatan dolar masih dalam batas yang bisa dimanage bank sentral. Cadangan devisa Indonesia juga masih mencukupi untuk tujuh bulan ke depan. 

"Yang penting masyarakat jangan panik. Apalagi Jawa Barat banyak industri manufaktur. Semestinya ini bisa menguatkan ekspor kita," jelas Ismet Inono di Kator Bank Indonesia, Kota Bandung, Selasa (22/5/2018. 

Menurut dia, penguatan dolar masih dalam beberapa indikator dan sinyal positif. Sektor riil masih tumbuh cukup baik dan konstruksi masih jalan. Walaupun, perlu diwaspadai carren account devisit, sehingga demand dolar cenderung tinggi. 

"Memang kita tidak bisa berdiri sendiri. Kita harus terkait dengan negara tradisional lainnya. Mungkin sekarang dolar sedang mengalami nilai keseimbangan baru. Kita juga tidak bisa memprediksi sampai di angka berapa," beber dia.

Salah satu solusi yang bisa dilakukan yaitu memanfaatkan momen ini untuk menggenjot ekspor. Dengan volume ekspor yang tinggi, akan menambah cadangan devisa naik, sehingga rupiah bisa terapresiasi.

Sementara itu, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 16-17 Mei 2018 yang memutuskan menaikkan BI 7-day Reverse Repo Rate sebesar 25 bps menjadi 4,50%, tak akan berdampak negatif terhadap perekonomian. 

"Kebijakan tersebut ditempuh sebagai bagian dari bauran kebijakan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas perekonomian. Langkah itu diambil di tengah berlanjutnya peningkatan ketidakpastian pasar keuangan dunia dan penurunan likuiditas global," paparnya. 

Bank Indonesia juga melanjutkan upaya stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai kondisi fundamentalnya dengan tetap mendorong bekerjanya mekanisme pasar. Kebijakan tersebut ditopang oleh pelaksanaan operasi moneter yang diarahkan untuk menjaga kecukupan likuiditas baik di pasar valas maupun pasar uang. 

Koordinasi kebijakan dengan Pemerintah dan otoritas terkait terus diperkuat untuk menjaga stabilitas makro ekonomi dan sistem keuangan serta memperkuat implementasi reformasi struktural. Bank Indonesia memandang bauran kebijakan yang telah ditempuh sebelumnya dan respons saat ini konsisten dengan upaya menjaga inflasi agar tetap berada dalam kisaran sasaran 3,5±1% pada 2018 dan 2019 serta mengelola ketahanan sektor eksternal.

SUMBER : https://ekbis.sindonews.com