Jika Tak Berinovasi, Perbankan dan Asuransi Bakal Terancam

Jakarta – Sekor jasa pada industri perbankan masih mendominasi dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun begitu, tak menutup kemungkinan industri keuangan dan asuransi akan tergerus dengan model layanan berbasis digital yang mana belakangan ini mulai menunjukkan perkembangannya yang pesat. Salah satu buktinya munculnya perusahaan-perusahaan financial technology (Fintech).

“Ada survei yang menyebutkan bahwa teknologi akan mempengaruhi kinerja terhadap perbankan. Dan saat ini mulai terbukti bagaimana arah struktur nodel bisnis sudah mulai mengalami transformasi yang besar. Perbankan dan asuransi mulai kena dampaknya,” ungkap Deputi Komisioner Otoritas Jasa Keungan (OJK) Imansyah dalam Indonesia Digital Innovation for Financial Industry 2017 di Jakarta, Jumat (16/6).

Jika kedua sektor tersebut tak ingin tergerus, maka Imansyah menyampaikan diperlukannya inovasi. Ia mencontohkan dengan keberadaan perusahaan fintech peer to peer landing yang mana keberadaannya akan mengancam incumbent industry. “Maka dari itu, kita menjaga agar startup fintech bisa diatur. Kami juga kedepannya akan mengeluarkan regulasi ketentuan digital banking untuk menjadi salah satu petunjuk dan memanfaatkan perkembangan teknologi terkini,” katanya.

OJK memang serius agar perkembangan teknologi bisa bermanfaat bagi banyak pihak dan tak ada pihak pihak yang dirugikan baik itu industrinya maupun nasabahnya. OJK pun membentuk Forum Pakar Fintech yang dijadikan sebagai wadah komunikasi untuk saling bersinergi antara pemerintah, Bank Indonesia, OJK, akademisi, dan perusahaan yang berkaitan.

Bagi Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, kinerja keuangan industri perbankan dalam kurun waktu 15-20 tahun mendatang akan tergerus dengan layanan pembayaran berbasis platfrom keuangan digital. “Sekarang ini, secara market cap ada Bank Mandiri, BRI dan BCA namun di 2030 bukan lagi bank bank tersebut,” prediksi Rudiantara.

Ia menjelaskan saat ini pemilik telepon seluler di Indonesia tidak kurang dari 170 juta jiwa atau bsa disetarakan dengan pemegang exclusive account, sedangkan SIM Card yang aktif ada 300 juta. Sementara itu, pemilik rekening bank masih jauh dibawah angka 170 juta. “Di BRI hanya ada 80 juta , tetapi tentunya mereka tak hanya memiliki rekening di BRI saja. Sehingga masih ada kanal distribusi yang akan digarap melalui layanan layanan pembayaran berbasis aplikasi smartphone sebanyak 90 juta orang,” jelasnya.

Lebih jauh lagi, Rudiantara layanan keuangan yang ekspansif untuk menggerus sebagaian fungsi intermediasi perbankan adalah Gojek, yang sejauh ini memiliki lebih dari 250 ribu drivers dan cata kerjanya tak sebatas sebagai alat transportasi saja. “Yang perlu diperhatikan bank adalah Gopay milik Gojek. Hanya dalam kurun waktu 2 tahun saja, Gojek memiliki market cap sebesar US$1 miliar. Bank mana yang sudah dapat US$1 miliar? Gojek akan mendapatkan the future value dari Gopay,” tambahnya.

Selain itu, layanan berbasis platform digital juga jauh lebih murah dari biaya administrasi di lembaga perbankan. “Setiap transaksi melalui teller di bank saja masih sebesar Rp1.500. Sementara dengan menggunakan aplikasi lewat smartphone hanya Rp300-500 per transaksi. Jadi sekarang kita bisa lihat soal efisiensi antara keuangan berbasis digital dan konvensional,” tukasnya.

Pendiri Warta Ekonomi Fadel Muhammad mengaku bahwa inovasi dalam berbisnis itu sangatlah penting. “Saya pikir dasarnya adalah inovasi, ketika jadi pengusaha maka inovasi itu penting jika tidak maka akan mati. Pun ketika saya menjadi Gubernur Gorontalo, saya menamakan visi inovasi. Jadi setiap kepala dinas perlu melakukan inovasi,” pungkas Fadel yang juga seorang pengusaha.

Sumber : http://www.neraca.co.id