Gubernur BI : Perekonomian Indonesia terus membaik

Gorontalo (ANTARA News) - Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengatakan kondisi perekonomian Indonesia terus membaik dan akan lebih baik lagi di masa mendatang.

"Berbagai dinamika telah mewarnai perjalanan perekonomian Indonesia di tahun 2017, kita patut syukuri bahwa perekonomian Indonesia di tahun itu menunjukan kinerja yang baik di tengah tantangan yang masih menyelimuti persoalan global," kata Agus pada kunjungannya di Gorontalo, Senin.

Ia menjelaskan Indonesia sekarang sudah masuk dalam era inflasi rendah dan stabil. Selain itu nilai tukar rupiah terjaga, bahkan pada tahun 2017 rupiah hanya terdiferensiasi 0,61 persen, sedangkan dua tahun lalu rupiah terapresiasi 2,3 persen.

Bahkan kinerja dari rupiah di tahun 2016, kata Agus, dianggap sebagai kinerja nomor dua terbaik di Asia.

"Laju inflasi terjaga pada level yang rendah sebesar 3,61 persen (year on year) tahun 2017, dan sama tiga tahun terakhir Inflasi Indonesia sesuai dengan target," jelas dia.

Menurutnya, kunci keberhasilan menghadapi berbagai tantangan ke depan adalah koordinasi, kerja sama dan kolaborasi yang lebih erat dan efektif di antara pemangku kepentingan di daerah dan pusat.

"Saat ini transaksi berjalan sudah masuk dalam kondisi yang lebih sehat, cadangan devisa Indonesia juga terus meningkat. Di awal tahun 2017 masih berjumlah 116 miliar dolar AS dan di akhir tahun 2017 mencapai 130,2 miliar dolar AS.

Selain itu stabilitas kondisi keuangan yang stabil, tercermin dari rasio kecukupan modal bank yang tercatat cukup tinggi sebesar 23,2 persen pada bulan November 2017.

Rasio kecukupan modal bank itu, jelas Agus, minimum harus 8 persen dan Indonesia berada pada angka 23,2 persen yang berarti jauh diatas dari yang diharapkan.

"Namun demikian kita perlu mencermati bahwa perkembangan sistem keuangan adalah fungsi yang strategis dan perlu menyehatkan hal itu, karena adalah bagian khusus yang menjadi `urat nadi` perekonomian," jelas dia.

Terjaganya stabilitas makro ekonomi dan sistem keuangan telah memberikan ruang bagi BI untuk melanjutkan pelonggaran kebijakan moneter guna mendukung momentum pemulihan ekonomi domestik.

"Pada tahun 2017 lalu, BI telah menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate 50 basis poin pada bulan Agustus dan September 2017. Pada saat kita menurunkan tingkat bunga, di Amerika Serikat yang merupakan negara sangat maju dan merupakan rujukan sistem keuangan justru menaikan tingkat bunga tiga kali pada tahun yang sama," pungkasnya.

Sumber : https://www.antaranews.com